Asam Lambung vs Batuk

Pengalaman didiagnosis LPR tahun 2020 kini berlanjut. Bedanya, di awal tahun 2023 saya berobat ke dokter spesialis lambung dan paru.

Sempat tes alergi di bulan Oktober 2022 dengan menggunakan sampel darah, namun ternyata tidak ditemukan satupun sumber mengapa saya batuk-batuk. Lalu dokter hanya memberikan vitamin dan obat ringan saja seingat saya.

Namun, persis di tanggal 5 Januari, tepatnya siang hari saya mengalami sedikit gangguan pernafasan dan perut kembung. Hal ini terjadi akibat saya makan segenggam kacang bali yang enak itu. Hmm, tapi itu belum signal yang kentara menurut saya.

Malamnya saya makan malam dengan sahabat dari SMA. Kami berempat saling tertawa dan bercerita, hingga makanan pencuci mult yang gratis dihadirkan di meja kami. Simpel sekali, es moci (pilihan saya rasa strawberry) dilapis cokelat dan bertaburan kacang.

Nah, disini lah mulai terasa sesak nafas yang makin meluap di dada saya sampai beberapa hari setelahnya. Apa yang saya rasakan mungkin juga kamu (penderita Gerd) pernah rasakan.

Perut Kembung dan kerap bersendawa

Begah rasa perut ini, penuh oleh gas lambung. Saya yang terbiasa minum Promaag aja sembuh, kali ini tidak berhasil. Terasa sekali perut saya keras dan kalau dipencet gas lambung keluar melalui sendawa. Agak malu sih karena suara sendawa lumayan kencang volumenya haha.

Batuk, suara serak dan Sesak Nafas

Salah satu rekan saya bilang “Mba, kayaknya kena long covid”. Saya runut sedikit bulan September saya sempat sakit covid kedua kalinya namun gejala sangat ringan. Memang ada suara serak yang kembali pulih setelah covid negatif. Tapi ini bukan covid yang berkepanjangan, mungkin saja karena imunitas sedang menurun, lalu ada bakteri/virus yang masuk dan menetap di tubuh ini. Wallahualam…

Yang membuat saya khawatir karena muncul sesak nafas hingga menghambat lancarnya aktivitas. Mulai dari berjalan jadi lambat, mandi pagi & sore pun bikin sesak nafas kambuh dan berkeringat sesudahnya. Apalagi naik tangga, ini sih yang paling bikin heboh. Nafas saya seakan berhenti setelah melangkah naik 30 anak tangga saat acara workshop divisi di Sentul.

Saya pikir “masuk angin”, secara orang Indonesia suku Jawa pula saya ini. Lalu antisipasinya saya selalu minum Tolak Angin cair sepertinya hampir 1 minggu setiap malam berturut-turut. Bisa jadi perut saya semakin error karena ramuan herbal ini.

Batuk yang muncul di saya lebih sering kalau sedang berbaring (meskipun telah menggunakan 2 bantal ditumpuk). Batuk berdahak lebih sering di malam hari, dan siang harinya tenggorokan gatal yang memicu batuk sampai suara makin serak.

Hampir tidak ada demam

Berbeda dengan kebanyakan orang sakit asam lambung, saya justru tidak merasakan demam. Pernah nyeri kepala sebentar dan merasa badan agak sumeng. Pernah juga sampai merasa kedingingan di kamar, lalu AC dimatikan sampai pagi hari. Wuih, jarang-jarang ada kejadian ini.

Mengelola Asupan Makanan

Bukan hanya menjaga, dari sakit kali ini saya belajar banyak untuk ‘Trial & Error” terutama untuk makanan/minuman yang dikonsumsi.

Ada sih kesalahan saya di awal yaitu minum Fanta (air bersoda & berwarna) dan lanjut rajin makan mie instan aneka olahan (rebus or goreng). Selain itu juga pas lagi doyan steak, Gyu-kaku, dan olahan barbekyu yang banyak lemak.

Dari sana, saya berusaha mempelajari makanan yang tepat untuk dimakan. Contohnya, menghindari makanan berlemak. Saya pilih banyak mengonsumsi telur. Bisa direbus, dadar atau mata sapi. Pilihan ini membuat perut saya terasa kenyang lebih lama.

Nasi putih saya ganti ke beras porang. Saya beli merek Fukumi isi 7 sachet kecil. Porsinya pas untuk memenuhi lambung saya. Selain itu saya baca dari beberapa artikel bahwa semangka bagus untuk pasien Gerd. Lalu saya menambahkan sesekali aja. Maksimum dimakan pun satu kali dalam sehari.

Pola makan yang tepat untuk Gerd Saya

Saya mengubah drastis pola makan dari yang semula dimulai jam 7 pagi dengan sarapan ringan (tapi nasi), kini berganti menjadi oatmeal dengan potongan pisang. Jam makan saya mundurkan ke pukul 09.00 agar lebih tahan kenyang.

Siangnya, saya makan nasi porang dengan olahan protein. Bisa dengan telur, ayam, ikan. Kadang kalau males masak, saya memilih membeli bubur namun itu pun bisa dihitung dengan jari. Lalu sore hari saya mulai memasak telur lagi atau makan buah yang ada.

Paling lambat makan malam diselesaikan pukul 18, dan yang terbaik adalah pukul 1700. Karena setelah saya pelajari, beberapa referensi sebutkan 2-3 jam setelah makan baru boleh tidur atau berbaring. Ternyata tubuh saya agak lamban memrosesnya, sehingga terkadang jam 9 malam saya masih bersendawa karena gas lambung naik ke atas.

Pelajaran Terbesar dari sakit Gerd?

Fiuhhh…! Apa yang kamu makan itu nikmatnya sesaat. Begitu lah pesan saya….

Dan latihan olahraga yang kamu lakukan itu dampaknya akan bertahan lama. Selama kondisi belum stabil, saya belum berani melakukan aktivitas olahraga berat. Alhamdulillah, setelah mendapat pertolongan di nebu pakai obat Respivent dan minum obat salbutamol maka nafas saya sudah lebih lega. Jadiiii… mulai berolahraga dari yang ringan: Berjalan kaki santai.

Alhamdulillah 🙂

Tiada yang salah untuk menyeimbangkan hidup dan kesehatan. Semuanya dimulai dari niatnya.

Yuk tahun 2023 jangan lupakan untuk hidup sehat tanpa neko-neko.

AW – 23.01.22

Leave a comment