Hari-hari dengan Omicron

Lulus Sarjana S.Cov!!! Kata teman saya sambil memberikan icon tepuk tangan. Duuuh, sebenernya ngga mau kena tetapi sudah didatengin duluan.

Beda sama flu biasa!

Kebetulan saya terpapar dari adik yang telebih dahulu bergejala namun tidak merasa dirinya positif. Karena hasil PCR nya negatif. Saya perlu catat kronologisnya supaya jadi pengingat seperti apa sih. Tracing contact & Action.

Sabtu, 19 Feb – Saya jadi petugas Sentra Vaksin alumni Smandel. Mengabdi buat sesama kan yaaa, hobi banget ini.

Minggu, 20 Feb – Adik yang sekamar sudah makin batuk-batuk & bindeng suaranya. Saya putuskan memakai masker di rumah, sambil tidur dan seharian di luar kamar. Tapi kembali lagi ke kamar buat tidur.

Senin, 21 Feb – Adik saya tes PCR pagi hari. Saya ngerasa kayak mau flu, kepikiran ketularan flu. Minum obat decolgen hari itu

Selasa, 22 Feb – Hasilnya PCR adik negatif (tapi dia ga bilang). Saya cek PCR karena prosedur setelah di sentra vaksin (antigen aja sih). Lanjut PCR jam 5 sore karena agak was-was juga, tenggorokan masih sakit meskipun biasa aja. Flu hanya sedikiiiit banget. Batuk ngga ada samsek. Anggapannya: Flu biasa

Rabu, 23 Feb – Pagi volumen suara 80% lah keluarnya, sambil batuk2 sesekali, dan ada ingusnya dari hidung. Berceloteh selama meeting “Ngga lah ini kayak batpil biasa aja kok”.

Menjelang jam 3 sore, keluar hasil PCR: Positif, CT 21. Duaaarrr!!! Ok. ini saya hitung sebagai H+1. Langsung saya kirim ke WAG keluarga, mengabarkan supaya yang lain di rumah aja, saya panggilkan Homecare Swab Test.

Si Adik kebetulan dipulangkan cepat dari kantornya karena ternyata teman kantornya hasil PCR positif. Dia ketakutan mengetahui saya terpapar, malah dia ngerasa sehat dan menjauh dari saya. Berkeliaran di ruang tengah & mengobrol dengan keluarga lainnya.

Jam 17 Petugas Swab tes datang. Saya melanjutkan konsultasi telemedicine dan membeli obat-obatan. Sambil menunggu obat dari Alodokter & Kementrian Kesehatan RI tiba.

Kamis, 24 Feb – Hasil tes PCR keluarga saya selesai. Hanya Adik saya yang sekamar saja yang positif. CT 33.

Syukurlah keluarga kami masih dilindungi.

H+2 Okeeey, akhirnya dikurung berdua dia di kamar. Gejala yang saya rasakan: Volume suara 50%, sakit di tenggorokan seperti rasa panas terbakar, hidung mampet, mata berair, sakit kepala, batuk sesekali, suhu tubuh normal 36,8 derajat, saturasi 97.

Jumat, 25 Feb – H+3 gejala sama, ada peningkatan rasa sakit di tenggorokan, volume suara mulai menurun lagi. Mata masih panas berair.

Sabtu, 26 Feb – H+4 Gejala sama seperti hari sebelumnya. Batuk-batuk mulai muncul dan susah tidur di malam hari.

Minggu, 27 Feb – H+5 Gejala masih sama, sakit tenggorokan berkurang, tetapi hidung masih kadang mampet dan mata masih berair.

Senin, 28 Feb – H+6 Sakit tenggorokan mulai berkurang di malam hari. Hidung mulai berkurang mampetnya. Batuk sesekali muncul, mata saya masih terasa panas & kadang berair. Sore mendadak saya merasa mual sampai tengah malam.

Selasa, 1 Mar – H+7 Berkurang jauh sakit tenggorokannya, batuk hanya di malam hari, hidung mampet di pagi dan malam saja, tidak terlalu sering. Sore kembali mendadak merasa mual sampai tengah malam.

Rabu, 2 Mar – H+8 Sakit tenggorokan sudah mulai menghilang, hidung hanya mampet sesekali. Gejala mual berlanjut hanya di sore hari saja tapi agak berkurang setelah minum obat mual. Muncul ruam & gatal di tangan dan kaki saya. Mera

Kamis, 3 Mar – H+9 Pagi sudah jauh lebih enak rasa badannya. Kemudian saya dan adik pergi test PCR, result same day. Negatif.

Alhamdulillah lega rasanya pengen cepat-cepat keluar kamar dan merayakan kebebasan 🙂

Ternyata bukan flu biasa… memang beda rasanya Covid varian Omicron menginfeksi tubuh dan menyerang area pernafasan atas. Sakit tenggorokannya itu yang berbeda.

Serba salah, disuruh istirahat tapi matanya pedes dan berair. Mejamkan mata juga terasa panas matanya. Meskipun banyak kurang tidur karena sering terbangun di malam hari, syukurlah asupan makanan dan suplemen lancar. Perhatian yang luar biasa dari keluarga dan para sahabat. Cukup dulu terpaparnya, semoga ngga kena lagi. AAMIIN…

Buat kalian yang masih beredar dan tidak pakai masker, agar lebih berhati-hati. Bisa jadi kalian bertemu dengan pasien positif tanpa gejala yang sudah lewat masa inkubasi, sehingga merasa “Saya baik-baik aja, ngga kepapar”.

Coba kalo pas masa inkubasi… hmmm ga sampe 24 jam, virus mulai merasuk ke dalam body kamu. So, take care.

AW – 07.03.2022

Leave a comment