Tulisan ini dibuat pada masa pandemi covid sedang mengkhawatirkan. Yaitu saat kasus baru terus bemunculan akibat penularan varian delta yang begitu cepat.
Baru saja dua hari yang lalu, 07.07.2021. saya mengantarkan kepergian ayah seorang sahabat yang terjangkit Covid-19. Dengan penyakit yang nyata dirasakan namun tidak nampak bagaimana virus tersebut beredar, sejujurnya saya dan semua orang yang peduli merasa ada takut di dalam hati ini.
Bagaimana tidak, ayah teman saya tidak tahu darimana sumber penyakit yang menyerang. Memang sekitar dua minggu sebelumnya, perawat ayahnya dinyatakan positif Covid. Namun saat itu hasil swab antigen dan PCR menyatakan bahwa sang Ayah sahabat saya ini masih negatif.
Namun Tuhan berkata lain dalam takdir-Nya. Ayah tercintanya meninggalkan dunia, satu minggu setelah hari ulang tahun sahabat saya. Sebelum peristiwa meninggalnya almarhum, ada deretan kejadian yang membuat kami terluka hatinya.
Almarhum dibawa ke RS untuk diperiksa untuk penyakit non-covid, dikarenakan almarhum mengidap diabetes. Tetapi dengan hasil swab positif saat di rumah sakit, otomatis penanganan harus dilakukan oleh RS rujukan covid. Ternyata mencari RS di saat kasus meroket itu tidaklah mudah. Berpindah-pindah hingga 4 RS demi mendapatkan penanganan darurat yang berakhir dengan ‘Penolakan’ dari RS mengingat keterbatasan nakes, ruang ICU dan ketersediaan oksigen.
Penanganan kemudian diganti di rumah, yang punya problem kedua adalah: Pasokan Oksigen! Karena saturasi almarhum sudah di angka 80. Kendala lambatnya respon dari Puskesmas terdekat pun menambah pilu hati. Belum lagi dengan sulitnya mencari obat-obatan pasien covid seperti avigan (golongan favipiravir) yang harganya naik drastis.
Kami beruntung dibantu oleh rekan dokter keluarga, teman baik saya, yang memberikan tele-konsultasi serta pasokan obat dan intens sekali memonitor perkembangan kondisi almarhum. Setelah keluarga berjuang, nyawa almarhum harus diikhlaskan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun…
Hati saya sedih, merasa perlakuan kepada pasien ini tidak adil. Tapi, saya juga menjadi dzolim jika mendahului orang yang sudah lebih dulu minta dibantu. Sehingga, dalam hati ini Saya mencukupkan dengan ikhlas atas kejadian ini.
Di sisi lain, saya merenung dan refleksi diri… “Bagaimana jika kedua orang tua saya masih hidup saat ini?”… sungguh saya tidak bisa membayangkan, betapa kalutnya kami sebagai anak melindungi mereka agar tidak terkena virus dan tak rela jika melihat mereka terjangkit Covid-19.
Di sisi ini, Saya mengucapkan syukur alhamdulillah bahwa kedua orang tua saya telah tenang meninggalkan dunia saat keadaan normal. di masa pelayanan kesehatan maksimal, ketersediaan obat mudah ditemukan, prosesi pemakaman pun dapat disaksikan secara riil.
Yaa Allah SWT, ujian ini memang berat sekali bagi semua orang di muka bumi. Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan, karena Engkau adalah tempat sebaik-baiknya kami memohon.
Detik saya menuliskan post ini, air mata tak dapat dibendung.
Bukan mellow, tetapi kesedihannya belum pergi dari hati. Semoga Kamu, sebagai anak, dapat menjaga kebahagiaan dan kesehatan orang tua yang masih hidup. Sayangi mereka, jaga mereka, penuhi apa kemauan mereka, dan jangan menentang mereka.
Sayangi kedua orangtua kalian ya.
AW – 09.07.2021
Leave a comment