Feedback Bikin Marah?

Percaya ga percaya, kita sering bilang “Kasih feedback dong, gue akan terima kok”.

Nyatanya, saat kita terima, ada orang lain yang merasa kita hanya membuat alasan saja. Nah lhoh, kok jadi bias?

Karena nge-judge itu paling mudah jika kamu ngga tau secara mandalam apa yang terjadi (or dilakukan). Kalo istilahnya Tukul don’t judge the book from its cover, secara mental sih menurunkan motivasi, namun secara logis mencoba respon justru dianggap defensif.

Pernah kok kejadian di saya, sedang ngadain (sebut aja event) untuk upskilling tim, tetiba presenter mengeluarkan data yang menunjukan posisi perusahaan bersaing dengan banyak pemain besar. Lucunya dengan situasi tadi, malah kamu seperti merusak image diri sendiri. Istilahnya, kredibilitas setahun lalu, hancur seketika.

Dimana yang salah? Apakah bertujuan menyetarakan tingkat pemahaman dengan contoh yang valid itu salah? Malah berdampak kepada penilaian bahwa “Kerja kamu selama ini apa? ngga bener! Siap-siap dipindah ya!!!”

Hell yeah, shit happens and no time to play. Let’s move on šŸ™‚

Feedback tadi semestinya menjadi poin untuk mendongkrak performa saat ini. Bukan untuk menyalahkan situasi kemarin. Bukan juga untuk judge ‘kerja lo nggak becus’. No way, not that.

Makanya, jika di suatu hari nanti kalian harus memberikan feedback atau menerima feedback, libatkan pikiran jernih dan logis…. Inget yah, tanpa emosi.

Mungkin Kamu berfikir seseorang itu kurang karena sebenarnya kamu ngga dekat dengannya. Lalu ngapain ngejudge?

AW – 29.01.2021

Leave a comment