Oxtail Fried Rice & Cappucino

Di Sabtu siang yang tidak dingin dan tidak juga panas, hanya matahari yang enggan nampak, memilih sembunyi di balik awan setelah sejak dini hari tadi hujan membasahi Jakarta dalam waktu yang cukup panjang, Saya mampir ke restoran ini… lama setelah hampir sepuluh tahun lamanya.

Oxtail fried rice berubah penyajiannya, tanpa kerupuk dan telur diceplok. Soal rasa, ada juga yang berubah dan berkurang… lebih terasa bumbu rempahnya, irisan buntut sapi berkurang dan sambal hijaunya kebetulan agak asin sehingga menu ini pas disantap dengan tambahan kecap manis.

Apapun rasa dan perubahannya, bagi saya ini sesuatu yang memorable sekali, untuk…

Suasananya…

Pilihan menunya…

Bahkan cara saya memilih tempat duduk.

Siang ini, hanya ada dua meja terisi dengan tak lebih dari lima orang pengunjung. Sengaja memang saya datang setelah waktu makan siang, dan berharap suasana yang sepi, tercapai juga!

Memanfaatkan wifi resto yang super kencang, buka iPad lalu mengunduh drama korea pilihan saya. Maaf, bukan karena ngikutin tren, tapi memang sedang menonton series terbaru yang keren! (Masih aja bela diri ya, hahaha)

Saya ga mau bahas drakornya, tapi si resto yang bertahan lebih dari sepuluh tahun di lokasi prima, area Blok M, tempat hiburan kawula muda Jakarta era 80-90an.

Soal brand resto ini ngga banyak yang dilakukan, kecuali buka cabang lain di mall, tetapi murni karena rasa makanannya enak dan penyajiannya (dahulu kala) bak menu hotel bintang lima, makanya harganya pun agak pricey. But I like it.

Bertahan lama di bisnis makanan bukan hal mudah, apalagi kalau ditemukan satu review di internet tentang satu komplain dari pelanggan. Belum lagi menjamurnya tempat-tempat baru dengan suasana cozy yang kasih harga menu lebih rendah. Bertahan dengan menu yang sama pun bisa jadi “omongan” orang lain di saat yang lain copy menu makanan dan membuat variasi darinya. Pada akhirnya, yang bertahan adalah sebenarnya mereka yang sabar dengan dinamika perilaku pelanggan.

Iya kan, perilaku pelanggan lah yang membuat kopi murah jadi dikejar-kejar sampai antrian mengular. Atau yang viral karena difoto salah satu influencer di online, membuat banyak bertekuk lutut mencoba lantas membuat komen yang hampir sama: Enak!

Kenyataannya di tempat yang saya datangi ini, segala promosinya telah dilakukan, namun kembali lagi ke biaya operasional semakin tinggi, lantas beban promosi seplah jadi “mata kuliah pilihan”, dengan menetapkan pada jalur konvensional dan Gofood supplier saja.

Ngga ada yang salah diantara derasnya promosi online dan offline, hanya mana yang tepat dan sedang trend lah yang menjadi penentunya. Pelanggan bisa segan atau terkesan.

It’s your choice 🙂

AW – 08.02.2020

From Lokananta Resto

Leave a comment