Rumah orang tua saya ngga besar kok, hanya memiliki 3 kamar untuk 7 orang anggota keluarga. Satu kamar yang agak kecil terletak di belakang, biasa dipakai oleh pembantu (jika ada). Maklum Bapak saya seorang PNS, gajinya cukup untuk sehari-hari, dan kebetulan Mama punya kebiasaan rapih dan ‘jarang’ mau dibantuin. Itulah kenapa punya pembantu yang sudah bekerja lebih dari 9 tahun, dan hubungan masih terjaga baik sampai sekarang.
Tapi saya mau cerita si Bunk Bed dari kayu yang bermerek “Ligna” … kalau anak 80-90an sih udah pasti paham. Bapak tertarik membeli karena bisa hemar ruangan dan cukup dipakai bertiga dalam satu kamar.
Tiga ranjang kecil disusun tiga, dipakai oleh saya, kakak perempuan dan adik perempuan. Terkadang aja bergantian siapa yang di bawah, tengah ataupun atas. Saya milih di tengah atau bawah.
Bagian tengah itu semacam tempat yang hirarkinya tinggi, bagian bawah nomer dua, lalu bagian atas ya sudah lah yaaa…
Saya pakai bunk bed saat masih SD hingga SMP. Suatu pengalaman tersendiri, karena kita bertiga bisa ngobrol dan ngga saling memandang satu sama lain, atau saat isengnya kumat bisa aja main perang bantal, atau main tiban dari bagian tengah ke bawah.
Seni berberesnya juga beda. Sehabis bangun tidur, Mama selalu ngajarin supaya tempat tidur itu diberesin dulu. Kebiasaan itu melekat, karena saya belajar bagaimana pasang seprei yang pas! Senengnya punya bunk bed juga karena bisa dorong kasur yang bawah pakai kaki. OMG, maaf lah saya dulu agak tomboi.
Pernah saya kebagian tidur di bagian atas. Sejujurnya, saya merasa ngga secure karena dekat dengan plafon, rasanya jarak mata memandang kurang sreg. Sama juga kalau ambil tidur di bagian tengah. Jadi menurut saya, bagian bawahlah yang paling eksklusif 😁
Kalau masih kecil, tidur sambil seneng-seneng di bunkbed sih bikin betah di rumah. Apalagi sambil baca komik Candy-candy, Natane, 7 magic, Asterix, Polisi 212, dan masih banyak lagi. Ughhh, masa-masa itu yang bikin semangat yah!
Happy weekend all!
Cheers, AW 26.07.2019
Leave a comment