Let Go – a life lesson

Kembali ke Desember 2006, kala itu Mama terbaring lemah tidak sadar di ruang ICU Rumah Sakit Tebet.

Pagi 12 Desember 2006, terdengar suara Mama di kamar berteriak menolak obat yang diberikan Bapak. Kemudian saya menghampiri Bapak dan mencoba bantu bujuk supaya Mama mau minum obat setelah itu saya bisa ke kantor.

“Maaaah, ini kan obatnya, yuk diminum, buka deh mulut Mama nanti Nanin yang kasih” seruku sambil duduk di samping mama yang berbaring.

Rupanya Mama tetap menolak lantas membelokan badannya menjauhi saya dan Bapak. Kontan saja saya merangkulnya sambil tetap membujuk agar obat mau diminum. Kami saling bersuara, kala itu karena mama berteriak “Nggaaaaa!”

Tiba-tiba Mama membalikan badannya dan duduk karena mau ke toilet. Ku bantu mama saat itu yang jalannya sudah tidak sinkron, menuju ke WC dekat kamarnya. Baru sampai di pintu WC, Mama terjatuh duduk di lantai.

“Astaghfirullah! Pah bantuin angkat Pah!” Teriak saya sambil panik melanda.

Gantian ditemani sebentar oleh kakak perempuan, saya keluar menyiapkan mobil untuk bawa Mama ke RS sambil siapkan bangku yang ada rodanya karena mama sudah nampak gelisah sekali.

Ia menggeram, menolak semua bantuan, memejamkan matanya, sementara langkahnya sudah tak kuat lagi. Sedikit usaha, akhirnya kami bisa memindahkan mama ke dalam mobil. Adik saya menemani di belakang, lalu Bapak saya minta duduk di samping saya yang menyetir.

“Mah, dibawa ke RS Puri Cinere ya.” Sahutku ke Mama yang kemudian dijawab “Nggaaaa”

“Lalu kemana Ma? Kan disana bagus, mama juga pernah dirawat disana” saya seperti mengeluh kecapean karena bingung. Lalu teringat beberapa waktu lalu Mama baru saja diopname di RS Tebet, dan beliau setuju kalau dibawa kesana.

Sedikit ngebut kubawa mobil Xenia itu, hingga tiba di lobi Emergency dan segera ditangani perawat. Saya kemudian menunggu di luar karena di dalam suasananya berisik sekali, Mama berontak ngga mau dipegang oleh perawat. Ia menendang semua yang di dekatnya, hingga kemudian suasana jadi sepi. “Aaah sudah tenang Mama….” begitu fikirku. Ternyata Mama sudah diinfus dan tertidur diberi obat.

Entah apa obatnya, karena ternyata saat itulah terakhir kali saya ngobrol dengan Mama dalam keadaan sadar. Beliau tidur hingga kepergiannya di tanggal 1 Januari 2007.

“Let Go” kata ini muncul dari beberapa tamu yang datang… “Ikhlas ya Nin” atau bilang “Sabar, Mama pasti kuat” hingga kalimat “Sepertinya masih ada yang belum rela ditinggalkan”

Sungguh kalimat itu membuat saya terpaku dan mencoba menyadarkan diri. Apa saya yang ngga rela?

Jujur aja saya masih belum siap ditinggalkan Mama, meskipun kami sering berbeda pendapat. Rasa sayangnya ngga akan bisa luntur walaupun Mama sering ngomelin, demi kebaikan anaknya.

Sampai kemudian di tanggal 1 Januari 2007, pukul 11 siang setelah ada tamu yang datang, saya duduk di tepian kasur Mama, memegang tangan beliau dan mengatakan “Mama, maafin Nanin… maaf ya Mah, Nanin bukan anak baik, sering bikin mama ngomel, suka ngga dengerin Mama, dibilangin susah, ngga mau nurut kalo Mama minta nanin ngga pacaran” lirih saya, berhenti sebentar menghela nafas.

“Tapi Nanin sayang Mama. Sayaaaang banget. Makasih Mama sudah ada di ulangtahun nanin ke-29 kemarin Ma. Kita ngerayain disini, di ruangan ini, Mama masih inget kan? Semua lengkap di sekeliling mama, yang tiduran lalu kita nyanyi lagu Happy Birthday dan air mata Mama keluar.” Saya ngga mampu menahan tangis saat itu.

Ku lihat Mama menggerakan sedikit jemarinya, lalu bersuara seolah ia memanggil “Nanin… Nanin…”

“Maafin Nanin ya Mah. Sekarang Nanin ikhlas dengan keadaan. Kalau Mama nanti sadar dan bersama kita lagi, Nanin janji akan jadi lebih baik lagi buat Mama dan Bapak.”

“Mah, bangun dong Maaaah…Nanin mau main sama Mamah. Kita bisa ke Mall lagi kayak permintaan mama kalo weekend. Bangun dong Maaaahhhh… Nanin kangen… ” airmata saya ngga bisa dibendung lagi, saya menumpahkan airmata memegang erat jemari beliau.

Persis setelah adzan Dzuhur, nama Bapak dipanggil untuk masuk ke ruang ICU. Kami diminta membimbing Mama hingga roh nya pergi dari jasad beliau.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

Pelajaran melepas kesayangan di dunia adalah yang terberat namun harus ikhlas dan tabah. Allah Maha Tahu dan yang membolak-balikan hati, dengan segala keresahan hati yang saya alami, satu yang ngga akan saya lepas… yaitu menghargai orang tua dengan melakukan apa yang mereka minta. Inilah janji terberat bagi saya yang terlambat dilakukan, namun tak boleh dihentikan.

Bismillah, al fatihah…

AW – 25.12.2018

Leave a comment