“Kita ke toko Tin-Tin yuk! Ngga jauh dari apartment” begitu pinta saya ke dua orang #tripbuddy saat di Stockholm. Saya sebut ini setelah malamnya Saras datang berkunjung.
Pagi itu, kami keluar sudah hampir jam 12, setelah saya selesai mencuci baju. Saya memang cuma mau lihat-lihat karena figurine bukan kegemaran buat dipajang, tapi kalo nemu buku, asesories, atau kaos bisa aja nyantol di kantong belanjaan.
Ok, seperti inlah penampakan toko TinTin di Gamla stan, Stockholm, Swedia.

Karena ini area kota tua, jalan bebatuan adalah ciri khasnya. Di koridor ini, dan koridor lain di Gamla stan, dipenuhi oleh restoran, toko suvenir, toko kosmetik, coffee shop dan atraksi pemuas mata dan perut, supaya hati jadi tenang hehehe. Saran saya kamu jalan di koridor ini malam hari, syahdu banget cahayanya… bikin pengen terus nyenderan bahu sambil pegangan (tapi entah sama siapa π)
Eniwei, Toko Tin Tin di sini memang cukup efisien, nampilkan banyak koleksi dan ramah pula si penjualnya.



Liat ya harganya, dikali aja Rp1.700,- bagi saya yang bukan kolektor sih ini kemahalan banget. Tapi saya suka warna putih, buat diwarnain lagi. Keinget pernah beli yg sama di salah satu toko di Kemang, Jakarta.
Ada juga kaos yang bagi saya pun overprice. Inget yaaa saya bilang ini karena bukan biggest fan nya. Saya juga agak merki a.k.a pedit hahaha, pas liat itu ide plagiatornya muncul *such a devil* ππ … bawa aja ke ambas, desain serupa π (duh please jangan ditiru yang kayak ini)
Setelah lihat-lihat dan Pangeran nyobain kaos, lalu teman saya yang lain juga ambil beberapa barang, kemudian kami memutuskan keluar dari toko dengan hasil: 1 kantong belanja untuk teman saya dan nihil buat Pangeran & Upik abu.
Kecewanya si Pangeran kayak di foto ini nih:

Kami pun bergerak menjauh, kali ini mengikuti saran Saras. Dengan berjalan kaki menyebrangi sungai lalu menemukan koridor serta plaza yang lebih ramai + modern. Ugh saya tersihir oleh suasana pepohonan yang sedang berganti warna daunnya, menjadi keemasan. Cantik beneeerr…
Sambil berjalan, kami temukan Uniqlo! Ahahaa toko baju kegemaran saya & Pangeran. Teman saya bilang mau cari winter coat yang sepeti dipakai saya n pangeran, ok lah kami masuk temani dia berbelanja.
Wow ternyata…. harga yang dibanderol itu hampir 2X lipat dari Indonesia. Ini sih emang shipping & tax nya jadi bikin produk yang dijual kurang kompetitif dibanding Zara atau H&M disitu. Desain juga ga kalah kok mereka. Well kayaknya Uniqlo kudu punya strategi khusus. Jadi di momen itu lah saya jadi beneran investigasi & compare harga. Liatin price tag lalu matanya agak melotot, liat harga baju lain lalu dahi mengernyit. Aaah, batalkan saja ide mau belanja, kepikiran berat koper jugaaa π

Dasarnya saya iseng ya, lagi muter2 dan nungguin teman bayar di kasir, eeeh nemu lah Pangeran yang duduk lagi main handphone. Kalo saya sih jujurnya capek muter2, mau cari tempat duduk…

Well who knows malamnya saya kena serangan sinusitis. Dalam perjalanan pulang, saya masih baik-baik aja lalu teman saya mau mampir ke Hard Rock Cafe untuk beli suvenir koleksinya. Saya masih anteng itu, masih sehat sampai masuk ke toko Hard Rock Cafe (HRC), setelah lihat-lihat koleksinya tiba-tiba hidung seperti kesumbat, kepala pening banget, dan penglihatan saya keabu-abuan. Entah kenapa, saya curiganya sih debu atau mungkin sinyal kecapean.
“Kita pulang naik apa?” Tanya saya ke Pangeran, saat itu kami hanya berdua karena teman saya sedang ke toilet di HRC. “Kalo jalan kaki 30 menit, kereta bisa & dekat” jawabnya.
“Naik kereta aja ya” pinta saya sambil pegang erat lengannya.
Saya masih belum cerita kenapa saya minta itu, dan berusaha seperti ngga sakit, padahal kepala sudah muter-muter. Berpegangan ke lengannya adalah satu pertolongan sederhana.
Singkatnya kami pulang naik kereta dan saya memilih selalu terpisah duduknya. Saya cuma mau nunjukin “Saya kuat”, meskipun aslinya lemah.
Berjalan agak sempoyongan di exit stasiun Gamla Stan, saya kepikiran ambil obat lalu tidur, saat itu masih jam 8.15 PM. Masih terlalu dini buat kami pulang ke penginapan. Rupanya teman saya mau mampir beli suvenir ala Swedia, mengingat besok kita harus terbang ke Oslo, Norwegia. Teman saya masuk ke dalam toko, sementara saya menutup mata menahan rasa pusing dan bersandar di bahu Pangeran sebentar saja, karena dia pun saya tawarkan “Masuk aja ke dalam kalau mau lihat-lihat, gue disini aja.” Lalu saya ditinggal sendirian dan untungnya toko di depan sudah tutup, saya bergera mencari sandaran tembok. Alhamdulillah, nikmat banget dengan rasa sakit kepala itu dan hidung mampet. Tak selang lama kami berjalan pulang ke apartemen. Kala itu, tak ada lagi obrolan dari saya karena menahan rasa sakit.
Tiba di apartmen pukul 8:45PM, saya semprotkan dua obat hidung dan segera minum obat yang saya bawa. Tanpa basa-basi masuk kamar dan terlelap belum ganti baju, kaos kaki masih nempel.
Terbangun di jam 10an PM, saya teringat mau mandi bebersih muka-badan & sikat gigi. Masih kebangun.
Aaah, kenapa juga tiba-tiba sakit? Padahal sudah dijagain, tapi Alloh SWT berkehendak βΊοΈ
So it was getting like what I want, but God speaks the truth. Thankful for had the experience when not alone.
AW – rewrite at 25.12.2018
From Stockholm 11.10.2018
Leave a comment