Persis saat menginjak kelas 3 SMA, Bapak saya pensiun, yang seharusnya masih 4 tahun lagi namun kebetulan peraturan saat itu dirubah menjadi usia 52 tahun. Hitungannya memang ngga asik di kala Bapak menikmati masa pekerjaannya dan harus melepas lebih dini.
Tapi ngga apa-apa, karena beliau ngga pernah menggerutu atau menyesali kejadian itu.
Terasa sekali di saya, karena rumah juga pindah dari sebelumnya dekat dengan sekolah di jakarta selatan, nah ini ke jakarta timur. Bapak hanya mengantar sampai terminal kampung melayu dan melanjutkan ke arah tebet supaya adik saya bisa sampai sekolah dgn nyaman. Saya? Ya naik bus metromini S60 aja! Sering ketemu teman-teman dan cukup 10-15 menit sudah sampai di sekolah, SMAN 8 Jakarta.
Satu masa terlewati, dan bertambah lagi beban Bapak ketika saya diterima di perguruanh tinggi negeri jurusan Arsitektur di Depok. Otomatis ongkos naik, biaya semesteran kuliah juga ada beban beli buku, alat gambar, bahan maket dan biaya sosial saya yang rajin berkunjung ke pameran berkaitan arsitektur.
Bapak harus berbagi penghasilannya untuk operasional rumah dan biaya pendidikan 5 orang anaknya. Beliau pernah coba usaha wiraswasta, tapi merasa ditipu sementara uang sudah keluar, jadi lenyap tanpa harapan ada pengembalian. Beliau juga kepikiran punya bisnis taksi sendiri, dan sekali lagi itu pun gagal.
Jadilah beliau di masa senggangnya, gemar mengajari saya menggambar teknik bangunan, mengajari saya struktur konstruksi, bertukar cerita bagaimana pengalaman ketika menjadi manajer proyek untuk bangunan-bangunan kantornya, menemani saya begadang saat ada tugas perancangan, mengingatkan saya untuk “belajar yang serius” setiap berangkat ke kampus pagi hari, dan beliau juga tak segan-segan mengantar ke Gramedia (waktu itu paling terkenal) dan membeli buku yang terbilang mahal.
Sekian banyak cerita ini tak sering didapatkan oleh saudara-saudara saya yang lain. Mungkin karena minat saya dan Bapak hampir sama, sehingga ngga sulit untuk Bapak mengontrol saya.
Makanya sering Mama menyebutkan: “Ah kamu sama Bapk sih sama aja! Anak Bapak”
Mama bercerita pas saya dilahirkan, Bapak sedang dinas di Cilacap selama 6 bulan. Jadi persalinan tidak ditemani Bapak, sementara empat orang saudara saya lainnya didampingi semua.
Mungkin itu yang membawa kedekatan saya dan Bapak. Selain itu kami juga punya hobi “berkelana” alias senang bepergian melihat sesuatu yang baru dan berbeda, ngga tahan lama di rumah hehehe.
Bagaimana pun itu ceritanya, saya berterimakasih kepada kedua orang tua yang telah pergi mendahului, bahwa bukan saja jadi Anak Bapak, saya juga Anak Mama yang sering berantem tapi ujung-ujungnya minta maaf dan menunggu peluk hangat Mama.
Terimakasih ya Pak, Ma
Mama pergi 01.01.2007
Papa pergi 14.02.2018
Mereka seolah memilih hari spesial untuk dikenang 😘🤗
AW – 10.03.2018
Leave a comment