Honor dalam bahasa Indonesia lho, bukan di bahasa Inggris yang di Indonesiakan…

Malam tadi telpon genggam saya berdering dua kali, kemudian saya terima dan mulai percakapan. Singkat saja, si penelepon minta secara mendadak supaya saya hadir besok siang, menjadi dosen penguji lapangan.
Antara percaya atau ngga, namun diberikan kepercayaan itu membuat saya tertegun. Sudah lama sekali saya ingin menjadi dosen, mungkin ini jalannya. Saya tidak persiapkan banyak hal karena memang bahan-bahan baru besok bisa dibaca.
Pagi tadi, sambil tergopoh-gopoh saya ke kantor untuk kerjakan beberapa hal yang tertunda. Selesainya, tepat pukul 11.40 WIB, saya melaju cepat dengan mobil dan berharap tidak keliru jalan menuju tempat pengujian.
Rupanya, jalan memang dimudahkan. Tidak sampai 30 menit sudah tiba dan malah saya bisa bercanda dulu dengan mahasiswa yang akan diuji.
Tapi satu hal buat saya kaget. Petugas admin meminta saya menandangani amplop berisi uang honor dan transport. Aaah sungguh luar biasa rasanya…
Sudah sejak puluhan tahun lampau saya terima ini, dan kembali menerima siang tadi. Bahkan saking merasa senangnya, saya kemudian berhasrat membeli sesuatu memakai honor tersebut. Kebanggaan tersendiri…
Bagi saya, nilai tidak menjadi patokan kebahagiaan. Bagi saya, dapat kasih masukan atas skripsi mahasiswa pun sudah buat saya semakin percaya diri.
Saya memberikan input tentang bagaimana korelasi topik dan output yang dihasilkan, karena saya merasa ‘mini’ jika harus komentar tentang sistematika penulisan. Yang meskipun pada akhirnya, komentar lugu saua keluar juga di bagian ini.
Apa yang saya rasakan hari ini, adalah kesempatan besar untuk memperkaya kemampuan analitis saya. Dan karena berteman bisa dengan siapa saja. Hidup bertemu dengan siapa saja.
Oleh karena itu, hargai berapapun yang kamu dapatkan. Dan hargai dirimu sendiri, supaya bisa menghargai orang lain, secara lebih baik lagi.
AW – 23.09.2017
Leave a comment