Bayangkan anda seorang calon pembeli mobil yang mendatangi beberapa showroom satu demi satu. Rasa letih terasa menguat ketika disodorkan daftar harga, yang kemudian turun karena tergiur penawaran diskon gokil dari sang sales.
Mulai dari harga uang muka rendah, bunga cicilan kecil, tenor pembayaran fleksibel, biaya bulanan cukup di hitungan dan sales yang gencar memberi bonus aksesories atau pun mencari celah pengurangan spek non-teknis untuk menambah potongan harga.
Sebagai calon pembeli, saya bisa bebas membandingkan biaya versus keuntungan dari penawaran para sales tersebut. Bahkan di merek dan tipe mobil yang sama pun bisa berbeda harga penawarannya, tergantung showroom dengan siapa kerjasama dengan lembaga peminjam yang menjamin tenor cicilan.
Saya bisa ngga pergi ngeloyor aja keluar showroom dan menentukan mau ambil di showroom sebelah karena harga miring? Sangat bisaaaa…!
Sales sudah menghitung mana yang bisa dicapai dan nyaman untuk calon pembeli. Sehingga bisa saja sales mengorbankan komisi demi mencapai target bulanan. Tapi perlukah sang sales showroom yang pertama dikunjungi melabrak sales yang sedang deal dengan saya? Jawabannya tidak.
Calon pembeli hanya melihat apa untungnya buat kami.
Untung dapet harga murah
Untung ditambah aksesoris
Untung salesnya pinter ngatur supaya bayar bulanan tidak berat-berat amat.
Sang sales juga harus berfikir bagaimana membuat calon pembeli tertarik di antara daya beli yang belum stabil. Sales yang memberikam harga mahal untuk keuntungan dirinya sendiri malah nanti terjebak ke situasi yang merugikan dirinya. Daftar pembeli bisa tumpang tindih, nama saya bisa terdaftar di beberapa showroom yang saya kunjungi, dan mereka bisa langsung kasih penawaran kapan pun ke saya.
Jadi, saya tinggal pilih aja kan?
Etika sales yang saya hargai lebih ke apa yang saya tangkap dari indera penglihatan (bagaimana ia tangkas menjelaskan), indera pendengaran (bagaimana ia sabar tidak memotong pembicaraan), daya berfikir analitis (bagaimana hitungan masuk dengan anggaran), dan hati (bagaimana degup jantung membuat nyaman di hati).
Kalau indra penciuman mungkin aja andai sales mobil mahal misalnya, penampilannya super dengan wangi parfum kelas atas, membantu calon pembeli berpaling ke pilihannya segera. Atau dengan indra perasa, dimana ketika saya sedang berfikir-fikir maka sang sales sigap memberikan minuman dan kue kecil. Lalu melalui indra peraba, yaitu pada saat calon pembeli melakukan test drive dan menyentuh tuas persnelimg kemudian menggerakan setir mobil, sensasinya berbeda.
Jadi, sah kan jika nasabah memilih yang nyaman di mereka?
AW – 06082017
Leave a comment