Firasat Positif, cari yang positif saja.

Di suatu pagi beberapa waktu yang lalu, saya baru saja memarkir mobil, menempati lokasi favorit. Dari bangku sebelah sinar handphone menyala, rupanya dua kali sudah telpon berdering namun karena silent maka tidak terdengar.
“Halo, sudah dimana?” Tanya saya

“Aku terlambat! Pesawatku sudah jalan” begitu pungkasnya.

Saya kontan terkejut tapi yang keluar malah nada kesal “Tuh semalam sudah kubilang, pulang cepat, handphone jangan dimatikan supaya aku bisa telpon bangunin kamu…”

Ia lirih perlahan membalas “Aku ngga matikan handphone…” setelahnya saya membombardir dengan pernyataan “Masa sih? Whatsapp ku ngga sampe pas aku cek jam 5 juga masih belum sampai. Ku telpon ngga nyambung” …. ia kontan jawab “Ngga ada telpon masuk…”

“Aku ga tau lagi ini, apa harus aku pergi? Tiketpun harus direschedule di bandara… Aku semalam minum obat dan pulas tertidur, jadilah ini aku berangkat meskipun terlambat” sekali lagi defensif mencoba mempertahankan diri kalau ia tak bersalah.

Lantas saya menjawab lugas “Lalu, kamu mau apa sekarang? Tiket yang lama hangus dan ganti baru, begitu kah?”

Ia menjawab “Iya, aku ga ngerti lagi kenapa tadi bisa sekarang tidak lagi. Coba kamu bantuin cek website yang ini (dan dikirimlah link yang dimaksud).”

Dicoba masuk ke link tersebut namun tak berhasil juga. Ia mulai resah karena harus pergi ke kota itu. Selang 15 menit, saya kembali mengubunginya “Aku coba ngga berhasil, sinyal jelek sekali, kayaknya sudah ga ada flight yang tadi dikasih. Lalu mau gimana?”

Rupanya dari seberang sana terdengar nada suara yang makin menurun kepercayaannya “Aku bingung ada apa sih? Pasporku ketinggalan! Jadi aku balik lagi dan sekarang baru berangkat ke bandara, dengan ketidakpastian terbang jam berapa”

“Aku ke bandara aja, kita ketemu disana” begitu saya tanpa berfikir panjang langsung menentukan bahwa dia butuh didampingi. Secepat mungkin saya mengendalikan mobil, dan memang rupanya bisa tiba lebih dulu darinya. Berbekal e-ticket, saya diarahkan agar ke helpdesk counter setelah dapat konfirmasi bahwa sistem antrian untuk jam-jam perbangan berikutnya. Dag dig dug hati saya karena mencoba berdo’a “Semoga penumpang yang lain telat, jadi dia bisa terbang di flight yang persis setelah ini”. Do’anya salah ngga ya??? Semoga tidak.

Setelah proses itu, Saya diminta petugas agar menunggu di sofa lounge, sambil berusaha tenang. Berharap bisa tenang sampai mata saya bisa melihat ia duduk di depan saya.
Selang sepuluh menit kemudian, ia berlari tergopoh-gopoh menghampiri, menunjukkan wajah bingung, bertanya “Gimana, gimana? Aku dapat atau ngga flight selanjutnya?”

“Sabar ya, sistemnya tunggu. Kita antrian ke-2, kamu sabar, aku ngusahain kok ke petugasnya. Dua puluh menit lagi mereka kabari kita” lanjutku, dimana ungkapan ini kuucapkan mencoba untuk menenangkan hatinya.
Ia terlihat bingung, lalu memegang keningnya dan berkata “Aneh lho, aku merasa ada yang aneh. Telat bangun, taksi rasanya berputar-putar saja tadi pagi karena harus ambil paspor, lalu sinyal jelek, dan sekarang ini pun belum jelas dapat seat atau tidak. Ada apa sih ya?” Ia terdiam sejenak, lalu berkata lagi…
“Supir taksi bilangin aku supaya telpon orang tua, mungkin ada sesuatu. Dan memang si ibu sedang sakit biasa, tapi ngga ada yang apa-apa” begitu lanjutnya dengan wajah yang tetap bingung seperti berharap saya membalasnya.
Saya lalu jawab singkat “Rasanya aku yang harus minta maaf…” eh ku lihat wajahnya curiga, menunggu lanjutan jawabanku… “Sebelum tidur semalam, aku sempet ngomong: ah biar aja kamu besok telat bangun! Itu karena aku kesal hari sebelumnya kamu egois dan bikin ga semangat. Bahkan semalam pun kamu ga peduli sama aku. Duh, sekarang aku merasa kena di kita berdua…”

Ia langsung meninggikan suaranya “Pantesan kan!!! Aku sudah duga, pasti ini firasat kamu… kata ibu, firasat perempuan itu kuat sekali… benar kamu kan ternyata… sampai tadi supir taksi komen kalau bukan karena ibu artinya ada yang lain. Jadi aku keras berpikir, mungkin ada hal yang lain.” sambil ia pun terlihat mulai lega karena mendapatkan jawabannya.

Kami berdua lega spenuhnya ketika saya menemui petugas dan menerima kepastian kalau ia bisa berangkat di jam yang saya pesan. “Yeaaayy, bisa jalaaan…” aku teriak sambil berjingkrak karena dia sedang berdiri dari tempat duduknya, sudah resah menanti. Saya kontan memeluknya, terlupa kalau ini di tempat umum. Setelah itu kami bergegas menuntaskan keperluan dokumen dan keluar lounge supaya ia bisa pergi menuju gerbang masuk.

Di depan lounge, ia merangkulkan lengannya mendekap bahuku dan mendekatkan kepala kami supaya aku bisa memberinya kecupan di pipi sebelum berpisah. Lirih ia berkata “Maafin aku ya, sudah, aku pergi dulu” begitu serunya. Saya mencoba tenang menghadapi segala sifat cuek yang sempat bikin kesal, lalu menjawab “Iya, aku kerja lagi yah…” sambil ku kecup lembut pipinya … kalimat penutup ini yang nyata terbaca masih belum rela untuk berpisah.

Happy ending. Ia pergi ke kota tujuan. Saya kembali ke kantor.

Ok. Topik saya tentang firasat. Antara ya dan tidak melihat korelasi yang saya akui sedikit ghaib. Bagaimanapun Paulo Coulho pun punya positioning kalimat yang bagus “The world conspires if you want something”. Saya rasa semua pernah mengalami ini, seolah “nyambung”. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana hubungan ini bisa saling menegur perilaku kita berdua.

Setelah kejadian ini, saya bertekad harus melatih firasat positif, sekaligus membangkitkan semangat. Penting lho! Jika tidak, akan terus negatif.

Dan untuk itulah anda semua juga harus menanamkan sifat positif, kepercayaan positif, dan berbuat yang positif. Untuk kebaikan diri sendiri serta orang di sekitar Anda…

AW – 23.07.2017

Leave a comment