Sebegitu rapihnya promotor band Coldplay di Singapura membuat saya terkesima, karena pelajaran baiknya π
Saya terpaksa membandingkan dengan konser yang biasa dilakukan di Indonesia. Semoga pelajaran ini juga bisa membuat promotor dan EO lebih bijak membedakan ‘branding’ dengan ‘butuh donasi sponsor’.
Hal pertama, untuk band sekeren Coldplay, maka tiket dijual via website resmi sportshub.com.sg, yang dalam hitungan lima menit saja sudah terjual 60,000 lembar. Kemudian, akibat banyak fans kecewa serta Coldplay tidak mampir ke Indonesia, maka dibuka lah jadwal show hari kedua. Luar biasa ya!
Dan yang terjadi masih sama, tiket yang dijual online dan booth fisik di National Stadium Singapore ini pun kembali ludes dalam hitungan menit. Memang kekuatan dari internet membuat orang-orang yang kurang paham harus mengantri di booth fisik atau menunggu keberuntungan dari calo dan penonton yang batal.
Hal kedua, situs tiket tidak perlu ribet tetapi informatif. Pembeli tiket dapat lihat ketentuan show, sehingga tidak perlu antri lama. Uniknya meskipun pakai e-tiket, penonton diharap bisa membawa hardcopy tiket supaya barcode mudah discan. Kenyataannya, e-tiket bisa juga discan barcode. Imbasnya yaitu antrian yang sangat tertib dan tidak lama.
Hal ketiga, penonton yang ingin menikmati pertunjukan biasanya tanpa membawa barang-barang yang tidak penting. alias cukup dompet/tas tangan. Nah, membaca behavior ini, maka daripada antri berlama-lama ya dibuka lah express gate khusus bagi mereka yang tanpa barang bawaan. Smart!
Hal keempat, sejauh mata memandang tidak ada umbul-umbul Coldplay! WOW! yang saya temukan hanyalah papan pengarah dan para kru EO yang kostumnya seragam. Yang ini berbeda sekali dengan situasi Indonesia. Kalau sudah ada konser musik, maka perusahaan rokok atau otomotif paling gencar memberikan dana supaya ‘branding’ mereka bisa dipajang. bahkan pemasangan umbul-umbul dijadikan bahan negosiasi mendapatkan dana sponsor dari perusahaan tertentu.
Brand itu perlu kuat komunikasinya. Sementara brand Coldplay ini sangat kuat, tanpa harus menambahkan atribut outdoor pun para fans sudah tidak sabar menonton. Semua info bisa dilihat secara online. Sementara di Indonesia, semakin banyak informasi langsung lebih disukai, yang tentunya harganya pun besar. Efektif atau tidak, belum ada yang bisa mengukurnya.
Kultur yang berbeda maka perilakunya berbeda juga, begitu ya kesimpulan singkatnya.
hmmm, terkesima karena rapihnya, iya. Dan setelah menonton pertunjukannya, saya makin terkesima dan terpesona, karena Chris Martin pandai sekali merangkai kata sambutan hehehe.
Bravo COLDPLAY!!!
AW – 1 April 2017
Leave a comment