Tak apa ditelponin Bapak melulu…

*suara dering HP* lalu aku intip sedikit, oh ternyata Bapak, sambil mataku melirik ke posisi jam digital memberi tahu bahwa memang sudah lewat jam sepuluh malam. Tetapi menurut saya: “ngga perlu diangkat ah” Lha wong sudah kurang dari 100 meter lagi taksi ini akan berhenti di depan rumah.

…ternyata saya salah…

semestinya saya swipe “accept” daripada membuat Bapak saya semakin khawatir 🙂

Kesalahan ini bolak balik saya lakukan. Tujuannya baik, agar Bapak bisa tidur saja, tak perlu menunggu saya sampai larut malam. Lagi pula sudah izin sebelumnya untuk pulang lebih malam dari kemarin. Alasannya pun sudah jelas “Nanti malam nanin belajar ya Pah”. itu adalah kode universal saya ke orang rumah, yang membenarkan bahwa pulang malamnya punya maksud positif.

…ternyata saya salah…

semestinya saya telepon lagi sebelum Bapak tidur, agar ia tak lagi khawatir 🙂

Kerap ketika saya memasuki rumah, lampu utama di ruang TV masih menyala, dengan suara sayup-sayup program TV yang ditonton seorang tua dari kursi malasnya menghadap ke televisi. Ya, itu Bapak saya. Biasanya saya langsung salam dan cium tangan beliau lanjut masuk ke kamar dan kadang pamit untuk langsung tidur.

…ternyata saya salah…

semestinya saya berbincang-bincang sebentar karena Bapak sudah menunggu, agar ketenangannya kembali 🙂

Lalu di keheningan jam setengah lima pagi, sudah kutemui Bapak berpakaian baju koko, sarung lengkap dengan kopiahnya, sedang bersiap berangkat ke mesjid dekat rumah. Tanpa berkata panjang, beliau bergegas meninggalkan saya. Dan saya pun terburu-buru menyelesaikan aktivitas pagi dan bersiap ke kantor hingga tak sadar kalau Bapak saya telah kembali duduk di kursi malasnya, sehabis shalat subuh. Sambil membawa Al-qur’an atau kadang HP beliau sudah siap browsing.

…ternyata saya salah…

semestinya saya menyempatkan waktu ngobrol sebelum berangkat, agar ia lebih lega 🙂

Tetapi pukul setengah enam, taksi sudah menunggu di depan rumah. Lalu lirih beliau berkata “Jangan pulang malam-malam ya Nin…”

Kasih sayang dan kekhawatiran seorang orang tua yang luar biasa hebatnya dari Bapak saya. Semenjak dahulu alm. mama pun sama luar biasanya, karena Bapak tak punya kesempatan tersebut selama beliau bekerja. Kali ini, beliau menebus waktu-waktu penting yang dilewatkan ketika anak-anaknya beranjak dewasa. Memori yang tak dapat ia ingat selama masa anak-anaknya bersekolah. Nuansa yang ia lewatkan pada saat ia menjadi Ayah yang memberikan kewenangan kepada Mama saya untuk mendidik dan menjaga anak-anaknya. Dan dimasa ketika beliau mempercayai saya menyetir mobil sendiri. Saat ini berbeda, ya tentu berbeda…

Jika begitu…. Tak Apa Bapak, telpon saja, nanti dikabari Nanin sudah sampai mana 🙂

AW/16112014

Leave a comment