#storyIwroteyearsago
Dalam perbincangan ringan bersama adik, tercetus kalimat:
“Wah, ternyata gue berani juga ya, usus buntu sudah mau pecah, masih jalan-jalan ke luar kota. Habis itu landing Jakarta beberes ke RS, nyetir pula, baru deh operasi, hari ke-7 udah nyetir lagi hihihi…!”
Astaghfirulloh… sungguh kemudian saya terdiam sebentar. Menantang maut kah aksi saya?
Sempat si Bapak khawatir karena proses operasi lebih lama dari estimasi waktu. Bahkan dalam pengaruh obat bius, saya hanya bermimpi ditemani seorang lelaki yang baik hati, entah itu siapa. Yang menyakitkan adalah ketika diserang rasa sakit, tepatnya pada saat usus buntu menyebabkan saya pingsan saat nyetir, dan ketika obat bius disuntikan dalam darah saya. Sungguh itu menyakitkan…yang sebenar-benarnya
Kesakitan berikutnya, ada ketika nafas saya terasa habis dan mesti dibantu oksigen selama masa perawatan. Hingga kemudian panas tinggi, yang tak kuat saya terima hingga menggigil hebat, apakah ini batas hidup dan matiku? Saya hanya dapat berdo’a meminta kepada Sang Pencipta “Matikan aku dalam keadaan khusnul khotimah, jika ini adalah saatnya…”
Manusia tidak mengetahui qodho dan qodar Alloh terhadap diri masing-masing. Hingga tidak tau seperti apa rasa ‘sakit’ yang akan diterima… apakah lembut, keras sekali, menusuk, atau tanpa rasa apapun. Subhanalloh, semoga jika saatnya kita dipanggil, adalah dalam keadaan yang bertaubat dan berada di golongan orang yang bertakwa. Aamiin
Ya, lantas teringat kata banyak orang “Ingin hidup seribu tahun lagi”…. hmm justru salah satu teman baik berpesan kepada saya “sewaktu sakit, semangatkan diri kamu seolah akan hidup seribu tahun lagi” …
dipesankan seperti itu, saya tidak mampu berkata-kata… karena… Sakit teman… rasa sakit itu tidak tahu kapan berakhirnya hingga waktu sendiri yang membuktikan kebesaran Alloh swt.
Rasa sakit itu dirasakan manusia seorang diri menjelang sakratul maut
Jadi… Perliharalah diri dan keluarga kita semua dari kelalaian mengingat Alloh swt.
Beribadahlah seolah tiada hari esok.
Berbuat baiklah seakan orang-orang sekitar kita adalah keluarga.
Bertutur santunlah sehingga orang lain merasa tenang berada di sekitar kita
Santunilah fakir miskin dan anak yatim seolah rezeki yang datang berlimpah dan tiada terputus
Ikhlas lah pada setiap cobaan yang mendera hingga akan berubah makna menjadi bahagia
Dan, tebarkanlah senyum sebagaimana akan menyempurnakan sedekah kita
Masih ada banyak waktu tersisa, buatlah menjadi masa pencarian barokah Allloh swt, sebanyaknya…
a small change with a big win… insya Alloh berkah
Happyhippo,
16022011
Leave a comment